Affordable Access

KONSEP ILMU DAN KEBENARAN DALAM PEMIKIRAN AL-GHAZALI (Kajian Tentang Epistemologi)

Authors
Publication Date
Keywords
  • Aqidah Filsafat

Abstract

ABSTRAK Al-Ghazali adalah seorang pemikir besar dalam sejarah pemikiran Islam, beliau adalah seorang ahli hukum fiqih, filosof dan sufi, dalam pemikirannya al- Ghazali mengakui fase-fase yaitu fase sebelum uzlah, masa uzlah dan sesudah uzlah. Usaha al-Ghazali dengan sikap kritis beliau berusaha untuk mencari pengetahuan dan kebenaran hakiki. Karena itu ia memutuskan untuk mencari pengetahuan kebenaran yang pasti dimana obyek yang diketahui dalam suatu cara tertentu sama sekali tidak memberikan peluang bagi masuknya keraguan, dengan itu al-Ghazali memilih jalan sufi dengan penghayatan zauq, banyak hal yang ditulis tentang kesungguhan hati Al-Ghazali dan arti penggunaan metode keraguan untuk mencari pengetahuan untuk kebenaran yang pasti, dengan itu beliau membagi pengetahuan ilmu menjadi 2, ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai produk. Ilmu sebagai proses yaitu aqliyah, hissiyah dan laduni (kenabian), dan ilmu sebagai produk yaitu batiniah (takliyah), kalam, falsafah, dan sufi. Dari aliran atau pendukung sekte ini ia memiliki empat kelompok yang masih dianggap memiliki kebenaran (Islam) pada abad kesebelas, jika tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kebenaran seperti itu, maka pencarian akan kebenaran sama sekali akan sia-sia. Tuduhan yang mengatakan bahwa al-Ghazali adalah sosok anti intelektual tak beralasan dan mengada-ada sebab justru al-Ghazali sangat rasional, bahkan karena sikap kritisnya, ia meragukan kebenaran segala sesuatu (skeptis). Memang, al-Ghazali membedakan antara daerah-daerah yang harus diimani dan dipahami dengan cahaya kenabian. Kesalahan orang adalah karena ia sering memasuki wilayah yang hanya bisa dipahami dengan nur hubuwwah dengan menggunakan akalnya. Al-Ghazali adalah penegak tasawuf baru yang mengkompromikannya dengan fiqih dan teologi. Ketiga bidang itu sebelumnya merupakan bidang-bidang yang tidak pernah bisa bertemu, bahkan dipandang saling bertentangan satu sama lain. Jadi, menurut al-Ghazali seseorang tidak dapat mencapai ma'rifah dengan indera dan akalnya, akan tetapi ma'rifah diperoleh melalui nur yang di ilhamkan oleh Tuhan kepadanya. Nur ini adalah kunci pembuka sebagian besar dari ilmu ma'rifat. Barangsiapa mengira bahwa tirai hanya dapat dibuka dengan menyusun kata-kata dan alasan-alasan belaka, berarti ia telah menyempitkan rahmat Allah yang luas dan kebenaran itu hanya dalam penghayatan sufi.

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.