Affordable Access

KONSEPSI YANG ESA DALAM FILSAFAT NEOPLATONISME PLOTONIUS

Authors
Publisher
Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Publication Date
Keywords
  • Al Jamiah Jurnal

Abstract

Puncak terakhir dalam sejarah Filsafat Yunani adalah ajaran yang disebut dengan Neoplatonisme. Sebagaimana namanya sudah menyatakan, bahwa aliran ini bermaksud menghidupkan kembali filsafat Plato. Meskipun pelopor Neoplatonisme yang pertama itu adalah Ammnios, namun pendiri yang sebenarnya adalah plotonius. Toh demikian tidak berarti bahwa pengikut-pengikut dan pendiri madhab ini tidak dipengaruhi oleh filosof-filosof lainnya, seperti Aristoteles, Stoa dan Phytagoras. Justru Plotonius banyak menimba dari mereka, hanya dalam hal ini Plato diberi kedudukan yang cukup istimewa. Di dalam bukunya Plato yang berjudul Dialogus, ia membicarakan tentang realitas yang tertinggi yang disebut Ide tertinggi. Ide tertinggi berhadapan dengan tingkat benda pertama atau hule (madah). Kekuasaan dan kesempurnaan ada pada Ide tertinggi itu, sedang kelemahan dan ketidaksempurnaan ada pada tingkat Hule. Oleh sebab itu realitas yang sebenarnya adalah Ide tertinggi itu. Sedangkan realitas pada tingkat hule tidak lebih dari suatu penampakan saja dari Ide tertinggi tersebut. Ide tertinggi itu hanya satu yaitu kebaikan semata. Plotonius sangat terpesona oleh Ide tertingi itu, kemudian ia mengambilnya sebagai dasar segala yang ada. Oleh karena itu ada adalah satu, sehingga semuanya ikut serta di dalamnya. Dari Aristoteles Plotonius tertarik juga dengan konsep akil makul, forma murni yaitu Zat Yang Ada dengan sendirinya adalah sebagai yang memikirkan diri sendiri. Dengan kata lain bahwa Tuhan itu hanya memikirkan obyek pikiran yang lebih utama, sedangkan yang utama dari pada zat-Nya tidak ada, pikiran dan obyek pikiran adalah keadaan yang utama. Maka konsekuensinya, Tuhan itu tidak mengatur hal-hal yang kecil, karena hal itu lebih rendah untuk diketahui-Nya. Plotonius dalam hal ini tidak setuju dengan pendapat tersebut di ats, merubah pandangan Aristoteles dari Tuhan sebagai Forma yang murni menjadi tidak Berfoma. Adapun paham stoa yang diambil oleh Plotonius mengenai konsep logos, dan dari Phytagoras bahwa Yang Satu itu mengatasi segala wujud. Dengan sumber-sumber ajaran filsafat sebelumnya Plotonius mampu menegakkan suatu filsafat yang penting, meskipun dasar pikirannya bercorak elektis. Dengan itu pula ia adalah filosof pertama yang dapat memecahkan dualisme ke dalam kesatuan, meskipun pada akhirnya mendapat kritik yang tajam di kemudian hari. b

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.