Affordable Access

Strategi Peningkatan Jumlah akesptor Inseminasi Bnatan Pada Sapi Bali Di Propinsi Bali

Authors
Publication Date
Keywords
  • Manajemen Strategi

Abstract

I Wayan Mardiana (2002) Strategi Peningkatan Jumlah akesptor Inseminasi Bnatan Pada Sapi Bali Di Propinsi Bali. Dibawah Bimbingan Setiadi Djohar dan E. Gumbira Sa'id Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah No 22 Tahun 1999 maka pemerintah daerah diberikan kewenangan penuh oleh pemerintah pusat tmtuk mengatur runah tangganya sendiri. Dengan otonomi daerah diharapkan pembangunan sektor agribisnis dapat berkembang dengan bak sesuai dengan tujuan mulia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya petani temak. Pulau Bali dijadikan sebagai salah satu pusat pemumian plasma nuftah sapi Bali di Indonesia. Untuk menjaga kemumiannya maka pengembangan pemuliabiakan sapi Bali perlu dijaga dan dilestarikan keasliannya. Kegiatan pelayanan inseminasi buatan pertama kali diperkenalkan di Bali pada tahun 1976. Namun sampai saat ini pelaksanaan IB di Propinsi Bali belum rnemberikan hasil yang optimal. Hal ini dapat dilihat berdasarkan laporan perkembangan jumlah akseptor peserta inseminasi buatan di Propinsi Bali dalmn lima tahun terakhir tiap tahunnya mengalami penman. IN menunjukkan bahwa kegiatan inseminasi buatan di Bali belum mencapai sasaran yang diharapkan. Strategi peningkatan jumlah akseptor inseminasi buatan pada sapi Bali untuk masa depan sangat memberikan harapan yang baik bagi masyarakat setempat maupun daerah itu sendiri. Kebijakan pernerintah pada sub sektor peternakan ditujukan pada peningkatan produktivitas peternakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani kbususnya daging sapi. Sampai saat ini pemerintah Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, sehingga pemerintah masih melakukan impor daging maupun sapi bakalan dari lux negeri yang menyebabkan pengeluaran devisa bagi negara. Agar hal ini tidak terjadi terus menenls maka pemerintah telah benlpaya melalui kebijakan peningkatan produksi peternakan agar tahun 2005 Indonesia diharapkan telah mampu berswasembada daging. Untuk mencapai peningkatan jumlah akseptor inseminasi buatan pada sapi dipergunakan manajemen strategik, yang didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai sasaran yang diinginkan. Dengan memperhatikan faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal, yang kemudian dilakukan analisis terhadap faktor lingkungan tersebut. Hasil analisis lingkungan internal untuk faktor kekuatan yang dimiliki oleh Dinas Peternakan adalah 1) Petugas Inseminator yang terampil dengan skor nilai 0.105, 2) Ketersediaan semen beku dengan skor nilai 0.099, 3) Kebijakan Dinas Peternakan dengan skor nilai 0.088, dan 4) Kualitas semen beku yang sangat baik memperoleh skor nilai 0.087. Untuk faktor kelemahan hasil analisis lingkungan internal yang dimiliki oleh Dinas Peternakan adalah 1) Pekerjaan inseminator hanya sebagai pekerjaan sambilan dengan skor nilai 0.228, 2) Terbatasnya personil Dinas Peternakan yang mengetahui tentang IB dengan skor nilai 0.204, 3) Terbatasanya sarana transportasi sepeda motor dengan skor nilai 0.202, 4) Kurangnya sarana dan prasarana peralatan IB dengan skor nilai 0.188, 5) Kinerja pelayanan IB masih belum optimal dengan skor nilai 0.184, 6) Kegiatan penyuluhan IB masih belum maksimal dengan skor nilai 0.166, 7) Kwangnya koordinasi antar petugas di lapangan dengan skor nilai 0.160, 8) Terbatasnya tenaga inseminator dengan skor nilai 0.158, 9) Sistem informasi recording IB masih belum memadai dengan skor nilai 0.140 dan 10) Terbatasnya alokasi dana untuk kegiatan IB dengan skor nilai 0.138. Berdasarkan hasil evaluasi analisis lingkungan internal (IFE) sebesar 2.06. Menurut David (2000) nilai tersebut berada dibawah angka rata-rata (2,5). Hal ini berarti, organisasi Dinas Peternakan secara internal lemah, karena tidak mampu memanfaatkan kekuatan yang ada dan merninimalkan kelemahan dalam peningkatan jumlah akseptor inseminasi buatan pada sapi Bali di Propinsi Bali Hasil analisis lingkungan eksternal ~ntuk factor peluang yang dimiliki oleh Dinas Peternakan adalah 1) Anak hasil IB mempunyai bobot badan lebih berat bila dibandingkan dengan anak hasil kawin dam dengan skor nilai 0.256, 2) Teknologi IB sebagai salah satu solusi untuk mengatasi terbatasnya pejantan sapi Bali dengan skor nilai 0.224, 3) Teknologi IB kualitas anak sapi Bali dapat ditingkatkan dengan skor nilai 0.220, 4) Kebijakan Pemerintah Daerah yang mendukung program IB dengan skor nilai 0.212, 5) Fertilitas sapi Bali cukup tinggi dengan skor nilai 0.208, 6) meningkatkan PAD dengan skor nilai 0.165, 7) Harga anak sapi hasil IB dengan skor nilai 0.165 dan 8) Populasi sapi Bali cuhlp banyak dengan skor nilai 0.147. Hasil analisis lingkungan eksternal untuk faktor ancaman bagi Dinas Peternakan yang hams diantisipasi adalah 1) Penyakit-penyakit Reproduksi pada sapi dapat dih~larkan melalui IB dengan skor nilai 0.148, 2) Penyakit Jembrana dapat menghambat pengembangan IB dengan skor nilai 0.144, 3) Banyak sapi betina yang kawin dam dengan skor nilai 0.140,4) Sistem quality kontrol semen beku dengan skor nilai 0.132, 5) Sistem pemeliharaan sapi Bali bersifat sambilan dengan skor nilai 0.124,6) Tingginya Harga semen beku dengan skor nilai 0.112, 7) Tingginya harga N2 cair dengan skor nilai 0.110, 8) Rendahnya tingkat pendidikan petani ternak dengan skor nilai 0.110, dan 9) Tingginya biaya pelayanan IB dengan skor nilai 0.106. Berdasarkan hasil evaluasi analisis lingkungan eksternal (EFE) sebesar 2.72.Menurut David (2000) nilai tersebut berada di atas angka rata-rata (2,5). Hal ini berarti, organisasi Dinas Petemakan secara eksternal cukup mampu merespon peluang yang ada dari dapat menghindari ancaman yang ada dalam peningkatan jumlah akseptor inseminasi buatan pada sapi Bali di Propinsi Bali. Hasil analisis SWOT diperoleh alternatif strategi yang dapat mempengamhi jumlah akseptor inserninasi buatan pada sapi Bali di Propinsi Bali adalah a) Strategi pengembangan teknik IB, b) Strategi peningkatan sistem manajemen kinerja pelayanan IB, c) Strategi peningkatan kegiatan penyuluhan IB, d) Strategi peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana operasional IB, e) Strategi peningkatan kerja sama regional antar instansi teknis dan f) Strategi peningkatan kualitas dan kuantitas SDM petugas dan petani. Berdasarkan hasil analisis SWOT dijadikan sebagai dasar untuk membuat hierarki utama, yang kemudian dilanjutkan dengan menggunakan analisis Proses Hierarki Analitik PHA). Alternatif strategi yang telah ditetapkan pada analisis SWOT diperoleh unltan prioritas strategi yang layak dipertimbangkan dalam peningkatan jumlah akseptor inseminasi buatan pada sapi Bali di Propinsi Bali. Berdasarkan hasil pembobotan dan prioritas diperoleh untuk masing-masing alternatif strategi peningkatan jumlah akseptor untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan sasaran pengembangan sebagai berikut 1) Peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia petugas inseminasi buatan dan petani ternak sapi memperoleh prioritas pertama dengan skor nilai 0.245,2) Peningkatan system manajemen kinerja pelayanan inseminasi buatan merupakan prioritas kedua dengan skor nilai 0.205, 3) Peningkatan penyediakan sarana dan prasarana operasional inseminasi Buatan mernperoleh prioritas ketiga dengan skor nilai 0.168, 4) Peningkatan kegiatan penyuluhan inseminasi buatan memperoleh prioritas keempat dengan skor nilai 0.157, 5) Pengembangan telcnik inseminasi buatan menempati prioritas kelima dengan skor nilai 0.156, dan 6) Kerja sama regional antar instansi teknis sebagai prioritas keenam dalam penerapan strategi peningkatan jtunlah akseptor inseminasi buatan pada sapi Bali dengan skor nilai 0.069. Dengan menerapkan strategi peningkatan jumlah akseptor inseminasi buatan pada sapi Bali diharapkan petani ternak akan kembali bergairah untuk mengikuti program inseminasi buatan. Dengan demikian diharapkan produktivitas dan populasi sapi Bali dapat meningkat yang pada gilirannya pendapatan peternak meningkat. Akhimya pembangunan di bidang petemakan di wilayah Propinsi Bali berhasil guna dan bermanfaat bagi masyarakat setempat. Kata Kunci : Inseminasi Buatan (IB), Dinas Peternakan, Sapi Bali, Akseptor, Manajemen Strategk, SWOT, Proses Hierarki Analitik

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.