Affordable Access

Kajian Manajemen Produksi Flight Catering Di Aerowisata Catering Service, Jakarta

Authors
Publication Date
Keywords
  • Manajemen Produksi Dan Operasi

Abstract

Dalam era global mendatang, wilayah regional Asia Pasifik akan menjadi pasar penerbangan yang terbesar kedua setelah wilayah regional Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Hal ini sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia yang akan semakin mengarah ke wilayah Asia Pasifik. Menimbang hal tersebut dapat diperkirakan akan semakin banyak perusahaan penerbangan asing dan domestik yang menanamkan modalnya di wilayah tersebut. Salah satu jasa inflight sewices yang sangat diperhatikan oleh perusahaan penerbangan adalah jasa penyediaan makanan dalam pesawat (flight catering). Hal ini disebabkan jasa flight catering dapat menggambarkan citra eksklusif dari perusahaan penerbangan itu sendiri. Aerowisata Catering Service (ACS) merupakan salah satu dari divisi PT Aerowisata, anak perusahaan Garuda, yang bergerak di bidang penyediaan perbekalan makanan untuk suatu penerbangan. Makanan yang disediakan disajikan dalam keadaan panas (hot meal) dan dalam keadaan dingin (cold meal), baik untuk perusahaan penerbangan domestik maupun asing. Memasuki era global mendatang, ACS akan menghadapi persaingan yang semakin ketat terhadap perusahaan jasa flight catering luar negeri maupun perusahaan jasa flight catering domestik yang akan bermunculan. Jasa flight catering tidak terlepas dari masalah kesehatan dan keamanan pangan. Makanan yang disiapkan oleh ACS melalui proses yang panjang (8 - 12 jam). Selama proses tersebut besar kemungkinan makanan tersebut terkontaminasi oleh mikroorganisme yang membahayakan kesehatan. Berkaitan dengan masalah tersebut, ACS Jakarta kadang-kadang menerima klaim dari konsumen pengguna jasa penerbangan terhadap meals uplift yang dihasilkan, seperti adanya rambut atau benda-benda kecil yang ikut serta dalam kemasan makanan tersebut. Di samping masalah klaim terhadap makanan, ACS juga pemah menerima peringatan akibat keterlambatan pengiriman additional meals (makanan tambahan) ke pesawat. Keterlambatan pengiriman makanan ini dapat mengakibatkan keterlambatan keberangkatan pesawat yang dapat merugikan biaya operasional perusahaan penerbangan yang bersangkutan. Selain itu, biaya produksi meals uplift mengalami peningkatan menjadi sebesar 43% dari penjualannya. Padahal, biaya produksi tersebut seharusnya dapat ditekan sampai 30% bila pengelolaan teknologi produksinya efisien. Permasalahan tersebut di atas tidak dapat dibiarkan terus-menerus, apalagi perusahaan tersebut akan menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam era global mendatang. Penggunaan jenis teknologi yang tepat dan kemampuan pengelolaan komponen teknologi dapat menentukan keberhasilan dan keunggulan terhadap kualitas dan kuantitas produk meals uplift yang dihasikan, sehingga dapat memuaskan konsumen. Keunggulan meals uplift yang dihasilkan dan kepuasan konsumen tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing dan kinerja perusahaan. Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana pelaksanaan manajemen teknologi yang diterapkan oleh Aerowisata Catering Service, Jakarta untuk meningkatkan daya saing perusahaan, (2) Bagaimana mengembangkan manajemen teknologi yang ada untuk meningkatkan produksi dan keamanan pangan, serta memuaskan konsumen pengguna jasa penerbangan terhadap produk yang dihasilkan oleh Aerowisata Catering Service, Jakarta. Geladikarya ini bertujuan untuk: (1) Mengkaji pelaksanaan manajemen teknologi produksi di ACS Jakarta, (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan manajemen teknologi di ACS Jakarta, terutama dari komponen teknologinya, (3) Memberikan alternatif pengembangan teknologi yang mungkin dilaksanakan sesuai dengan kondisi perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan analisa deskriptif. Pengolahan data menggunakan program Minitab dan pengujian menggunakan metode Mann-Witney dan metode Chi-square (statistika non parametrik). Hasil pengolahan data dianalisa dengan metode Science and Technological Management Information System terhadap indikator transformasi teknologi dan indikator kemampuan teknologi. Pengkajian manajemen teknologi dilakukan terhadap empat komponen teknologi, yaitu perangkat teknologi, perangkat manusia, perangkat informasi, dan perangkat organisasi. Berdasarkan hasil kajian manajemen teknologi produksi flight catering di Aerowisata Catering Service Jakarta, dapat ditarik kesimpulan bahwa perusahaan ACS sudah memiliki dan menguasai perangkat teknologi dengan baik, tetapi tidak ditunjang dengan perangkat manusia, perangkat informasi, dan perangkat organisasi. Oleh karena itu, manajemen teknologi yang diterapkan perusahaan ACS masih memiliki kelemahan. Pengkajian indikator transformasi teknologi adalah sebagai berikut: (1) Perangkat teknologi perusahaan ACS tergolong jenis mesin manual sampai mesin khusus (nilai median 4) dan sudah dapat memenuhi status teknologi yang diharapkan perusahaan, yaitu jenis mesin bermotor sampai mesin otomatis (nilai median 4,5). Perangkat teknologi yang dimiliki perusahaan dinilai cukup mampu untuk bersaing. (2) Perangkat manusia perusahaan ACS memiliki kemampuan mereparasi, memproduksi, dan mengadaptasi (nilai median 5) dan belum memenuhi harapan perusahaan, yaitu kemampuan menyempurnakan dan melakukan inovasi (nilai median 8). Perusahaan harus lebih meningkatkan pengembangan SDM sesuai dengan kebutuhan perusahaan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi. (3) Pemanfaatan perangkat informasi perusahaan berada pada tahap menerangkan, menspesifikasi, dan menggunakan fakta (nilai median 5). Kondisi ini belum sesuai dengan yang diharapkan perusahaan, yaitu menghayati, menyimpulkan, dan mengkaji fakta (nilai median 7). Perusahaan harus lebih meningkatkan pemanfaatan informasi yang ada sehingga mampu bersaing dengan perusahaan lain. (4) Perangkat organisasi perusahaan dengan nilai median 3,5 berada pada tahap menetapkan, menciptakan, dan melindungi pola kerja. Kondisi ini belum memenuhi harapan perusahaan, yaitu pada tahap menstabilkan, memapankan, dan menguasai pola kerja unggul (nilai median 6,5). Perusahaan harus segera membenahi organisasinya. Pengkajian indikator kemampuan teknologi menunjukkan perusahaan memiliki kemampuan yang cukup untuk bersaing dalam industri flight catering (nilai median 2). Kondisi ini sudah memenuhi harapan perusahaan, yaitu paling tidak perusahaan berada pada posisi terbaik di ASEAN (nilai median 3). Berdasarkan pengujian chi-square statistics dapat disimpulkan bahwa indikator transformasi teknologi tidak berhubungan dengan indikator kemampuan teknologi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan manajemen teknologi di ACS Jakarta adalah : (1) Penggunaan perangkat teknologi seoptimal mungkin dengan tingkat produktifitas yang efisien dan efektif. (2) Memiliki sumber daya manusia yang berkemampuan teknis dan manajemen yang tinggi sehingga dapat menunjang kinerja perusahaan (3) Pemanfaatan informasi internal dan eksternal seoptimal mungkin yang ditunjang dengan penggunaan sistem informasi yang terpadu. (4) Struktur organisasi yang lengkap dan menjalankan fungsi manajemen dengan baik. Beberapa alternatif kebijakan yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam mengoptimalkan pelaksanaan manajemen teknologinya adalah: (1) Memanfaatkan perangkat teknologi yang ada seoptimal mungkin, dengan cara memperbaiki peralatan yang rusak, mengganti peralatan yang telah berusia lama dengan peralatan baru yang lebih efisien, serta melakukan perencanaan pembelian perangkat teknologi yang lebih unggul dan tepat untu k masa mendatang. (2) Melakukan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan perangkat sumber daya manusia dalam aspek keahlian teknis maupun manajemen. Perbaikan sistem penilaian prestasi kerja dan persyaratan kualitas karyawan, pengadaan record complain atau inspeksi hasil kerja, maupun pembakuan job description. (3) Mengoptimalkan pengolahan dan pemanfaatan informasi dengan cara memperbaiki sistem informasi yang ada, penggunaan sistem komputer terpadu. Penggunaan fasilitas internet hendaknya juga digunakan untuk pengambilan maupun pemanfaatan informasi, apalagi era global semakin dekat. (4) Perangkat organisasi perusahaan harus segera dibenahi, terutama pembuatan struktur organisasi yang lebih lengkap. Kemungkinan untuk mendirikan dapur baru dan pemisahan produksi meals uplift hendaknya perlu dipikirkan, mengingat kapasitas produksi/hari telah melebihi dari kapasitas terpasangnya. Dengan melakukan pemisahan produksi meals uplift antara Garuda dan non Garuda diharapkan dapat lebih meningkatkan kinerja perusahaan ACS. Perusahaan ACS Jakarta perlu meningkatkan pelaksanaan manajemen teknologi untuk mencapai misi dan tujuannya dengan mengoptimalkan komponen-komponen teknologinya, yaitu dengan cara: (1) Mengoptimalkan penggunaan perangkat teknologi yang ada, perencanaan produksi yang efisien, serta perencanaan pembelian perangkat teknologi yang unggul dan tepat. (2) Pengembangan SDM, pengawasan kualitas kerja karyawan, penyusunan job description yang baku, dan memperbaiki sistem penilaian prestasi kerja. (3) Mengembangkan sistem informasi yang lebih terpadu baik secara internal maupun eksternal perusahaan. (4) Pembentukan departemen penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat perencanaan jangka pendek dan jangka panjang kegiatan perusahaan.

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.