Affordable Access

Pengukuran Performansi Logistik Pada Departemen Spining Di PT. X

Authors
Publisher
Fakultas Teknik Universitas Surabaya
Publication Date
Keywords
  • Hd28 Management. Industrial Management

Abstract

PT. "X'' adalah anak perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dan mempunyai dua departemen, yaitu departemen spinning dan departemen weaving. Departemen spinning berkontribusi 80% dari keseluruhan pendapatan perusahaan, sehingga penelitian dilakukan pada departemen spinning. Dalam persaingan yang ketat perusahaan perlu memperhatikan kepuasan konsumen secara total untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan konsumen. Karena itu diperlukan pengukuran performansi logistik perusahaan yang mencakup aspek supplier, purchasing, material management, transportation sub-contractor, dispatching, dan customer service. Pengukuran performansi logistik dengan menggunakan konsep Balanced Scorecard dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. Pengukuran performansi logistik berawal dari menentukan visi, misi dan strategi PT. "X''. Strategi yang tepat sangat membantu dalam menjalankan misi dan pencapaian visi. Strategi dihubungkan dengan pengukuran performansi logistik dengan enam aspek. Pada aspek supplier PT. "X" menggunakan tolok ukur yang berkaitan dengan ketepatan pengiriman dan kualitas produk. Pada aspek purchasing, tolok ukur berhubungan dengan pemilihan supplier, pemeliharaan hubungan dengan supplier, dan persediaan bahan baku, bahan pendukung dan suku cadang. Pada aspek material management, tolok ukur berkaitan dengan aliran material dalam perusahaan. Pada aspek transportation sub-contractor menggunakan tolok ukur yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan truk, ketepatan pengiriman, dan penjagaan kualitas produk selama pengiriman. Aspek dispatching, tolok ukur berkaitan dengan pemanfaatan truk, dan pemilihan sub-kontraktor. Aspek customer service menggunakan tolok ukur prosentase keluhan konsumen mengenai kualitas produk. Dari tolok ukur akan ditetapkan target. Tiap tolok ukur dan aspek akan diberikan bobot kepentingan menggunakan Pairwise Comparison dari metode Analytical Hierarchy Process. Dari hasil pengukuran performansi logistik, diperoleh hasil performansi logistik total PT. "X'' periode 1 adalah cukup baik dengan nilai 2.238, periode 2 adalah cukup baik dengan nilai 2 .182, dan periode 3 meningkat menjadi baik dengan nilai 2. 441. Dari hasil pengukuran performansi diketahui tolok ukur yang lemah dan perlu diperbaiki berdasarkan prioritas perbaikan. Yang mendapat prioritas perbaikan adalah utilisasi mesin, dan efisiensi kerja. Untuk itu perlu ditentukan inisiatif perbaikan yang ditentukan menggunakan metode Quality Function Deployment dengan membuat matriks House of Quality yaitu matriks inisiatif. Perbaikan yang dilakukan adalah perbaikan prosedur pemesanan produk baru, penjadwalan perawatan mesin, peningkatan Gugus Kendali Mutu, dan pemberian training metode kerja baru. Untuk mengetahui departemen yang terkait dengan inisiatif perbaikan dibuat matriks departemen dan diketahui bagian produksi yang paling berpengaruh. Kemudian dibuat matriks action plan yang berisi action plan dari inisiatif perbaikan sesuai dengan departemen yang terkait.

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.