Affordable Access

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Kepemimpinan Pada Level Manajemen Madya di PT INDOMIWON ClTRA INTI

Authors
Publication Date
Keywords
  • Manajemen Sumber Daya Manusia

Abstract

Dalam mengelola suatu organisasi/perusahaan termasuk mengelola sumber daya manusianya diperlukan teori-teori manajemen dimana kepemimpinan merupakan bagian dari manajemen. Walaupun tidak secara keseluruhan, seorang manajer harus mempunyai kemampuan dalam menyusun peraturan organisasi/perusahaan, mengkomunikasikan tentang pekerjaan, memotivasi karyawan dan mempunyai pandangan jauh kedepan. Dilain pihak, kegiatan-kegiatan manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan pengambilan keputusan tidak akan berjalan lancar tanpa adanya tindakan dari pemimpin yang handal. Pekerjaan seorang pemimpin akan semakin kompleks karena adanya teknologi baru, perkembangan informasi ilmiah dan perubahan yang cepat. Keadaan ini dapat diimbangi dengan menerapkan sistem kepemimpinan yang efektif serta memilih gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan perorangan, bawahan dan organisasi. Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku yang dirancang untuk memadukan kepentingan-kepentingan organisasi dan karyawan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinan dilatar belakangi oleh banyak hal. Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinannya tertentu belum tentu cocok dan tidak selamanya akan berhasil memimpin suatu perusahaan. Oleh sebab itu gaya-gaya kepemimpinan harus diketahui dan difahami oleh seorang pemimpin agar dapat melaksanakan fungsi kepemimpinannya dengan baik. Penelitian dilakukan di PT INDOMIWON ClTRA INTI Bandar Lampung, dimana PT INDOMIWON ClTRA INTI merupakan perusahaan kerjasama antara dua perusahaan multinasional yaitu PT Sembada Widyacita (Salim Group) lndonesia dan Miwon Co. Ltd, Korea Selatan. PT INDOMIWON ClTRA INTI merupakan perusahaan PMA dan di dalam beroperasi sehari-hari pada tingkatan manjamen puncak masing-masing berasal dari lndonesia dan Korea. Untuk tingkatan manajamen madya,beberapa dari departemen dipimpin personel Korea yang langsung membawahi manajer-manajer dari lndonesia. Posisi para manajer lndonesia diharapkan mampu mengimplementasikan segala kebijakan yang ditetapkan manajemen puncak dan mampu memimpin bawahannya sesuai yang diharapkan para manajemen organisasi tanpa mengabaikan kebutuhan-kebutuhan mereka sebagai manusia. Permasalahan yang dihadapi oleh PT INDOMIWON ClTRA INTI adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan pada level manajemen madya. 2. Sejauh mana pengaruh tersebut terhadap efektivitas kepemimpinan pada level manajemen madya. Berdasarkan permasalahan yang ada, maka Geladikarya ini bertujuan untuk : 1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan level manajemen madya pada PT INDOMIWON ClTRA INTI. 2. Merumuskan model kualitatif tentang faktor-faktor pembentuk kepemimpinan yang efektif: Data pokok yang diperoleh dalam penelitian melalui pengisian kuesioner oleh karyawan level manajemen supervisor sampai tingkat operator dan wawancara pada ketujuh manajer madya berasal dari Indonesia. Responden berasal dari tujuh departemen yaitu: Departemen Packing, Departemen Produksi, Departemen Inventory, Departemen Maintenance, Departemen Fermentansi, Departemen Personalia dan Departemen Quality Control. Metode analisis yang digunakan adalah analisis statistik yang didukung oleh analisis kualitatif. Statistik yang digunakan adalah Uji Validitas dan Reabilitas alat ukur, Korelasi Rank Sperman dan Regrasi Linear Berganda. Hasil uji validitas melalui tes awal dari 65 pertanyaan yang diajukan kepada 10 responden menunjukkan nilai korelasi masing-masing item pertanyaan berkisar antara 0.6634 sampai 0.8536. Bila dibandingkan dengan r tabel untuk tingkat kepercayaan 95 % dengan ,n =10 yaitu sebesar 0.684 maka semua pertanyaan dianggap valid dan dapat di gunakan. Hasil uji reliabilitas melalui tes awal dari 65 pertanyaan yang diajukan kepada 10 responden bila dibandingkan dengan r tabel untuk tingkat kepercayaan 95 % dengan 10 pengamatan yaitu 0.648 maka kuesioner yang digunakan cukup dapat diandalkan tingkat kepercayaannya. Melihat hasil korelasi peringkat, dari tujuh peubah bebas yang diharapkan merupakan faktor pembentuk efektivitas kepemimpinan, adalah faktor-faktor (1) Ciri-ciri pribadi pemimpin, (2) Perilaku atasan, (3) Perilaku bawahan, dan (4) Dukungan manajemen yang memiliki hubungan nyata dengan efektivitas kepemimpinan. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya koefisien yang memiliki peluang sebesar 0.029, 0.180, 0.078, 0.063 untuk menolak hipotesis no.1 (hipotesis no.1 : korelasi tidak nyata, hipotesis satu : korelasi nyata). Karena nilai peluang menolak hipotesis lebih kecil dari taraf 35 % yang dipakai, maka korelasinya dianggap nyata. Pada koefisien korelasi menunjukkan bahwa pada bagian administrasi, tidak ada faktor-faktor peubah bebas yang secara nyata berpengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan. Sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan adalah faktor lain yang tidak diamati dalam penelitian ini. Untuk bagian teknis terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pengubah bebas ( 1 ) perilaku kepemimpinan, (2) perilaku bawahan, (3) struktur tugas, serta (4) hubungan antarpemimpin. Pada analisis regresi dapat dilihat bahwa nilai ajusted R-squared yang diperoleh adalah 0.6079. Hal ini berarti bahwa kontribusi keenam peubah bebas tersebut secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat sebesar 60.79 persen, sisanya sebanyak 39.10 persen kemungkinan diperoleh oleh faktor-faktor lain. Faktor-faktor tersebut diduga adalah tingkat teknologi yang digunakan, bahan baku, sasaran yang ingin dicapai oleh perusahaan, dan lain-lain. Pengaruh murni dari masing-masing peubah bebas terhadap variable terikat ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi parsial. Kontribusi parsial masing-masing variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap variable terikat ternyata kecil. Peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap efektivitas profil kepemimpinan yaitu struktur tugas hanya sebesar 35.8 %. Kriteria efektivitas kepemimpinan terlihat bahwa departemen yang dimiliki kepemimpinan yang efektif adalah departemen Personalia, Packing dan Fermentasi. Sedangkan departemen Quality Control, Maintenance, Produksi dan Inventory mempunyai kepemimpinan yang masuk kategori kurang efektif. Hal ini didasarkan pada jawaban responden yang menunjukkan pendelegasian tugas pada departemen-departemen tersebut belum optimal. Sebagai kesimpulan dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut : (1) Berdasarkan analisis kriteria efektivitas kepemimpinan, di ketahui sebanyak 43% departemen yang dipilih menjadi sampel memiliki kepemimpinan efektif, dimana pemimpin cenderung berorientansi kepada hubungan antar pribadi, sering mengikutsertakan bawahan dalam penyelesaian tugas-tugas serta merekomendasikan bawahannya kepada manajemen puncak tentang sanksi maupun penghargaan kepada bawahan. Dan sebanyak 57% departemen yang dipilih kurang efektif. Hal ini diketahui karena ketiga variabel (pemimpin, bawahan dan lingkungan) yang diukur ternyata belum dilakukan secara optimal. (2) Dari analisis regresi yang dilakukan didapat nilai sebesar 60,79 % dipengaruhi peubah bebas yaitu ( 1 ) struktur tugas, (2) perilaku bawahan, (3) dukungan manajemen, (4) harapan terhadap pemimpin, (5) prilaku pemimpin, (6) hubungan antar pemimpin, sisanya sebesar 39,21% dipengaruhi oleh faktor teknologi yang digunakan, bahan baku dan tujuan. (3) Melihat hasil korelasi Sperman dari 7 peubah bebas terhadap kepemimpinan yang efektif yang mempunyai hubungan nyata adalah (1) ciri-ciri pemimpin, (2) prilaku bawahan, (3) prilaku pemimpin, (4) dukungan manajemen. Dimana didalam suatu tim kerja seorang pemimpin dituntut untuk dapat mempengaruhi dan mengantisipasi kebutuhan serta prilaku masing-masing bawahan tentunya berbeda-beda. Peran pemimpin akan semakin efektif jika adanya komunikasi antar kepala departemen, terdapat hubungan yang harmonis maka akan memperlancara proses produksi dan koordinasi di PT INDOMIWON ClTRA INTI. (4) Nilai koefisien korelasi parsial pada ke 7 peubah bebas terhadap efektivitas kepemimpinan hanya variabel struktur tugas yang berpengaruh. (5) Dalam pembentukan model efektivitas kepemimpinan PT INDOMIWON ClTRA INTI dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut: (1) struktur tugas (2) prilaku bawahan, (3) prilaku pemimpin. (4) dukungan manajemen, (5) harapan terhadap pemimpin, (6) hubungan antar pemimpin dan (7) kejelasan tujuan dan sasaran tugas.Jika PT INDOMIWON ClTRA INTI dimana hubungan antara pemimpin, bawahan dan situasi lingkungan jika dilakukan secara optimal dapat menghasilkan hubungan yang harmonis dan efektif. Dengan demikian ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan seperti hubungan (1) antarpemimpin, (2) prilaku bawahan, (3) prilaku bawahan, (4) ciri-ciri pemimpin, (5) harapan terhadap pemimpin, (6) dukungan manajemen, (7) struktur tugas dan (8) kejelasan tujuan dan sasaran dari suatu tugas. Dengan dirinya sendiri mempunyai jati diri yang ada kelebihan dan kekurangan serta kekuatan dan kelemahan. Hal ini mengingat efektivitas kepemimpinan merupakan hasil interaksi antara pemimpin, bawahan dan lingkungan sehingga tiap unsur ini harus dioptimalkan secara terpadu agar terjalin hubungan kerja yang harmonis dan efektif. Sebagai saran setelah dilaksanakan penelitian ini, maka dapat dikemukakan sebagai berikut : (1) Seorang pemimpin harus mengetahui terhadap perubahan yang terjadi pada karyawan, mendengarkan keluhan-keluhan karyawan, selalu memberikan perhatian pada karyawan sehingga motivasi kerja karyawan akan meningkat dan pekerjaannya pun dapat diselesaikan secara efesien dan efektif. (2) Dalam menentukan tujuan dan sasaran dari suatu tugas hendaknya manajer puncak dan manajer madya melibatkan para manajer tingkat bawah, dimana para manajer tingkat bawah sangat berperan penting (sebagai ujung tombak) didalam menjalankan perusahaan. (3) Pembentukan iklim kerja dan budaya perusahaan yang telah ditetapkan serta dijalankan perlu di evaluasi kembali oleh manajemen puncak seperti kerja keras, loyalitas dan sifat disiplin akan berjalan efektif jika di mulai dari pimpinan puncak sehingga tercipta cara dan iklim kerja yang mendukung wawasan kebersamaan dalam usaha pencapaian tujuan. (4) Pemimpin yang baik dapat merangsang intelektual karyawan sehingga karyawan dapat menemukan cara-cara baru dalam memecahkan masalah.

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.