Affordable Access

LAILATUL QADR DALAM TAFSIR KLASIK, PERTENGAHAN DAN MODERN (Studi Komperatif Tafsir J amp;#257;mi' Bay amp;#257;n f amp;#299; Tafs amp;#299;r Al-Qur' amp;#257;n, R amp;#363;h Al-Ma' amp;#257;ni dan Al- Misbah)

Authors
Publication Date
Keywords
  • Tafsir Hadist

Abstract

ABSTRAK Lailat Al-Qadr merupakan satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Beragam pendapat muncul dikalangan mufassir dalam mengkaji lailat al-Qadr, sehingga menimbulkah beragam pertanyaan tentang bagaimanakah malam al-Qadr itu? Apa terjadi hanya sekali saja pada saat turunnya al-Qur' amp;#257;n (Nuzulul Qur' amp;#257;n)? Atau setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Ataukah sepanjang tahun baik Ramadhan ataupun tidak? Dari uraian di atas, peneliti bermaksud membahas lailat al-Qadr tersebut dalam tafsir periode klasik, pertengahan, dan modern/kontemporer melalui kitab tafsir Jami' Bayan fi Tafsir Al-Qur amp;#257;n karya Ibn Jar amp;#299;r Al-Tabar amp;#299;, tafsir Ruh Al-Ma'ani karya Al-Alusi Al-Bagdadi dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian ini menggunakan metode library research yaitu penelitian dengan cara mengkaji dan menelaah sumber-sumber tertulis yang terkait dengan obyek pembahasan dengan menekankan kepada penafsiran dan analisis atas data-data yang tersedia dengan memberikan gambaran secara deskriptis-analistis. Dengan kata lain, pemikiran ketiga tokoh tersebut akan dideskripsikan secara komprehensif (karakteristik, corak serta peristiwa yang melingkupi ketiga mufassir tersebut). Selanjutnya, penyusun akan mencoba membuat perbandingan pemikiran ketiga mufassir tersebut agar mudah dipahami cara melakukan penafsirannya. Temuan dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan dalam metode penafsirannya. Sebagaimana at-Tabari denagan metode riwayatnya, beliau banyak menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an dengan hadits-hadits khususnya rawi hadits otoritas awal. Sementara al-Alusi dalam penafsiranya beliau mencoba memadukan riwayat dan ra'yi dalam artian bahwa riwayat dari Nabi atau shahabat atau bahkan tabi,in tentang penafsiran al-Qur' amp;#257;n dan ijtihad dirinya dapat digunakan secara bersama-sama, sepanjang hal itu dapat dipertanggungjawabkan akurasinya. Lain halnya dengan M. Quraish Shihab beliau menggunakan metode ijmali (global) maudu'i (tematik) atau penafsiran ayat-ayat tertentu dengan mengunakan pendekatan-pendekatan modern seperti semantik, analisis gender, semiotik, hermeneutika dan sebagainya. Dari hasil penafsiran ketiga Mufassir tersebut tentang lailat al-Qadr penulis melihat: Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Lailat al-Qadr hanya terjadi sekali itu dan tidak akan ada lagi sesudahnya. Pakar hadits Ibn Hajar menyebutkan alasan mereka itu antara lain sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi saw. yang menyatakan Innah amp;#257; rufi'at (sesungguhnya malam al-Qadr telah terangkat, dalam arti sudah tidak akan datang lagi). Secara eksplisit maupun implisit dari hasil penafsiran ketiga mufassir tersebut mengisyaratkan bahwa lailat al-Qadr terjadi setiap tahun dengan beragam keunikan dan keistimewaan di dalamnya yakni, pada bulan Ramadhan khususnya dimalam-malam ganjil paruh akhir Ramadhan, walaupun masih terdapat perbedaan pendapat tentang tanggal berapa lailat al-Qadr turun. Oleh karena itu bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan bertambah keistimewaannya dengan adanya malam al-Qadr yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam diseluruh penjuru dunia.

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.