Affordable Access

ANALISIS PENGAMANAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI WILAYAH PERAIRAN BARAT INDONESIA OLEH KAPAL TNI ANGKATAN LAUT (KRI).

Authors
Publication Date
Keywords
  • Manajemen Strategi

Abstract

Wilayah perairan barat Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan sebesar 6,26 juta ton per tahun, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dan hasil pemanfaatan sumberdaya kelautan baru memberikan kontibusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 20%. Kondisi keamanan di laut yang belum kondusif telah mengundang berbagai kerawanan seperti penyelundupan, perompakan, pencurian kekayaan laut, pencurian pasir, pencemaran laut dan lain-lain. Pelanggaran pencurian atau penangkapan ikan secara ilegal di wilayah perairan barat Indonesia dilaporkan cukup tinggi, selama tahun 2002 tercatat 916 kapal ikan yang periksa dan ditangkap. Koarmabar sebagai penanggung jawab keamanan di wilayah perairan barat Indonesia telah menggelar berbagai operasi keamanan laut baik secara individu maupun secara bersama dengan unsur keamanan laut lainnya. Dengan 31 KRI yang sebagian kondisinya sudah tua menyebabkan baru 38% dari luas wilayah perairannya dapat diawasi dan diamati secara efektif atau sekitar 1,43 juta km2 . Kegiatan pengamanan sumberdaya perikanan di laut merupakan pekerjaan yang komplek dan mahal, karena kapal patroli memerlukan biaya operasi dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Dalam analisis pengamanan sumberdaya perikanan sebagai indikator keberhasilannya adalah hasil pemeriksaan dan penangkapan kapal ikan di laut oleh kapal patroli TNI AL, dimana untuk kegiatan tersebut dilakukan penghentian dan pemeriksaan di laut. Berdasarkan kondisi keamanan dan kegiatan pengamanan sumberdaya perikanan di laut dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Bagaimana kondisi pengamanan sumberdaya perikanan di laut, dihadapkan dengan keterbatasan kapal patroli dan dengan metode dan pola operasi yang dilaksanakan, (2) Berapa besar kontribusi faktor-faktor berpengaruh terhadap pengamanan sumberdaya perikanan di wilayah perairan barat dan penangkapan kapal ikan, (4) Berapa besar kontribusi KRI terhadap pengamanan di laut. Sedangkan tujuan penelitian adalah (1) Menentukan berapa besar kontribusi KRI terhadap faktor-faktor berpengaruh di laut terhadap pengamanan sumberdaya perikanan di wilayah perairan barat Indonesia, (2) Menentukan berapa besar nilai operasi dan nilai biaya KRI dalam rangka pengamanan sumberdaya perikanan , (3) Menentukan kebutuhan kapal patroli dalam rangka pengamanan di laut dan (4) Menentukan besarnya pengaruh dan kontribusi faktor-faktor terhadap pengamanan sumberdaya perikanan di laut. Untuk penyelesaian permasalahan ini digunakan analisis model regresi berganda untuk menunjukkan pengaruh kualitas atau kemampuan KRI terhadap kegiatan pengamanan di laut yang didukung analisis kualitatif dari permasalahan terkait dengan pengamanan di laut. Data yang digunakan data sekunder dari setiap KRI yang ada di Koarmabar, variabel yang digunakan dalam model regresi adalah : umur kapal, tonase kapal, lama operasi, deteksi radar, jumlah awak kapal (ABK), biaya personel, biaya BBM dan biaya pemeliharaan sebagai variable bebas dan Hasil pemeriksaan kapal ikan sebagai variable tidak bebas. Dari hasil perhitungan regresi berganda tidak linier diperoleh nilai variabel-variabel bebas dari persamaan regresi yaitu : (1) Tonase = - 1,02, (2) Deteksi radar = 1,41, (3) Jumlah ABK = 0,481, (4) Biaya personel = 0,0892, (5) Biaya BBM = 0,602 dan (6) Biaya Pemelihaman = - 0,493. Dari hasil perhitungan kontribusi KRI terhadap faktor berpengaruh diperoleh nilai terbesar untuk pemeriksaan kapal dan kegiatan operasi adalah kapal PC, penggunaan biaya operasi adalah kapal PK, biaya BBM dan pemeliharaan adalah jenis BU .Untuk nilai operasi dan nilai biaya jenis kapal PC dan PK membedakan hasil yang paling efisien, sedangkan berdasarkan luas wilayah barat Indonesia dibutuhkan kapal patroli 26 kapal. Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan dari hasil penelitian disarankan : 1) Diperlukan adanya penambahan kapal patroli sebanyak 26 kapal, (2) Meningkatkan data dan informasi daerah operasi, (3) Pembentukan Badan Keamanan Laut yang lebih mantap.

There are no comments yet on this publication. Be the first to share your thoughts.