Summary

Experience

Keindahan Candi Ceto 1986 - 2016

Terdapat varian peninggalan sejarah mengenai agama hindu terdapap Indonesia, bila ellu menghampiri satu-satu daerah tersebut gak cukup di masa yang singkat. Memerlukan waktu lama mestinya, untuk menggali informasi secara langsung.

 

khususnya di wilayah Jawa Tengah, dapat dikatakan sebagai daerah yang Beribu budaya dan sejarah wasiat kebudayaan Indonesia. Bagi orang-orang sedaerah telah bukan hal aneh lagi saat mendatangi candi-candi di Jawa.

 

beberapa warisan sejarah di Jawa tengah yaitu di kota Karanganyar, Yaitu Candi Cetho. Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Komplek candi kerap digunakan oleh orang-orang sekitar jadi tempat ziarah. Candi Ceto didirikan awalnya oleh Van de Vlies di tahun 1842. Berdasarkan keadaannya saat reruntuhannya diteliti, candi tersebut diperhitungkan telah berusia tidak sangat berbeda dengan Candi Sukuh.

 

Kompleks percandian saat awalnya ditemukan reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, menjulur dari barat ke timur. Pembaruan di akhir 1970-an digarap oleh Sudjono Humardani,pendamping pribadi Suharto mengubah banyakstruktur asli candi, meski konsep punden berundak selalu dijaga.

 

Salah satu target baru hasil pembaruan yang dianggap udah tidak asli adalah gapura di depan sisi kompleks, bangunan-bangunan dari kayu lokasi pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, dan Phallus, dan bangunan kubus ada sisi puncak punden. Selanjutnya di masa bupati karanganyar, Rina Iriani menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi, di punden tadi lebih besar daripada bangunan kubus.

Waktu ini Candi Cetho menemui beberapa perubahan tetapi sebagian yang lain harus terjaga keasliannya. Komplek Candi ini ada sembilan tingkatan yang berundak.

 

Di depan sebelum gapura yang berjenis candi bentar ada dua pasang arca pelindung. Halaman candi yakni aras pertama terdapat bangunan candi berbentuk relief vagina wanita meskipun halaman ke dua ialah halaman candi tersebut. Untuk halaman ke tiga memiliki petilasan Ki Ageng Krincingwesi, adalah leluhur orang-orang dusun Cetho.

 

Di samping kanan gapura terhadap dinding memiliki inskripsi aksara Jawa Kuno dengan tulisan " Pelling Padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku". Arti tulisan ini adalah fungsi candi sebagai mencusikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pendirian gapura, yakni tahun 1397 Saka yang tahun Masehinya 1475 Masehi.

 

Pada teras ke tujuh memiliki sebuah jejeran batu mendatar yang berbentuk kura-kura raksasa dan surya Majapahit terhadap permukaan tanah. Kura-kura adalah tanda penciptaan alam semesta sedangkan penis lambang penciptaan manusia.

 

Terdapat juga penggambaran fauna misalnya mimi, katak, beserta ketam. Dan pada arca Phallus (alat kelamin laki-laki) yang konon kabarnya relief arca ini mampu membuktikan keperawanan seseorang loh. Dan arca Sang Prabu Wijaya V pada wujud Mahadewa pada di aras ke delapan terletak disisi utara. Pemujaan pada arca ini jadi ungkapan syukur serta harapan akan memperoleh kesuburan alam yang luas.

 

Dan aras ke sembilan yaitu aras yang paling besar yaitu sebagai lokasi khusus pemanjatan doa. Di aras tersebut juga punya banguan yang berbentuk kubus agen resmi fiforlif semarang.

 

Demikian adanya penjelasan dari Sejarah Candi Ceto yang menyimpan banyak mistis. Jangan lupa ketika kamu ke solo mampir kesini untuk menelusuri lebih jauh lagi berkaitan pengetahuan sejarah peninggalan berbudaya di Indonesai.

Contact me

Report this profile